NIKMATI LAYANAN TRAVEL PRIBADI, BOOKING DAN CETAK SENDIRI TIKETNYA

BIRO TIKET PESAWAT ONLINE

BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI
POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA

Jika Anda Bisa Mengetik dan Akses Internet, Anda Sudah Memiliki Syarat yang Cukup Untuk Menghasilkan Uang dari Bisnis Tiket Pesawat Online

Rekan Netter ...

Prospek Bisnis online di bidang penjualan tiket pesawat masih sangat besar peluangnya, selama perusahaan penerbangan masih ada dan dunia pariwisata terus berkembang, bisnis tiket tiket pesawat masih layak untuk dipertimbangkan, hal yang perlu diperhatikan adalah menjamurnya pusat penjualan tiket dimana – mana, sehingga daya saing semakin tinggi, perlu suatu terobosan yang inovatif agar tetap bersaing sehat. Ini lah yang menjadi pertimbangan birotiket.com sehingga membuka peluang bisnis online menjadi biro tiket pesawat secara online dengan modal sedikit tetapi hasil yang sangat luar biasa..



KEUNTUNGAN APA SAJA YANG AKAN ANDA DAPATKAN ?

1. Proses reservasi / booking bisa dilakukan darimana saja dan kapan saja di seluruh wilayah Indonesia.

2. Data yang transparan langsung dari airline.

3. Proses reservasi langsung dilakukan dari sistem airline.

4. Anda bisa mencetak sendiri tiket anda dan penumpang anda bisa langsung terbang.

5. Pembayaran melalui transfer bank sehingga bisa lebih cepat dan akurat.

6. Anda bisa menjual kembali tiket tersebut kepada orang lain dengan harga pasar.

Selain beberapa keuntungan di atas, masih banyak lagi keuntungan yang akan anda dapatkan jika bergabung bersama kami, selengkapnya silahkan klik disini


BISNIS YANG BIASA TETAPI MEMILIKI
POTENSI PENGHASILAN YANG LUAR BIASA


Bergabung? silahkan klik disini


Minggu, 05 Juni 2011

BPK gelar audit pembelian pesawat MA-60

|0 komentar

BPK segera menggelar audit terhadap proses kontrak pembelian pesawat MA-60 asal China untuk PT Merpati Nusantara Airlines terkait dengan prosedur dan penetapan harga dalam pengadaannya.
Anggota BPK Taufiqurrahman Ruki mengatakan pihaknya akan memulai dari awal untuk melakukan audit itu sehingga belum bisa memberikan opini salah atau benar terhadap kebijakan pembelian pesawat komersial itu yang pembeliannya menggunakan pendekatan kesepakatan pemerintah dengan pemerintah.

"Apakah prosedurnya yang tidak sesuai dengan peratuan yang berlaku di negeri ini. Atau mungkin hal-hal yang menyangkut masalah harga. Ini yang akan kami lihat," ujarnya pekan lalu.

Dalam hal ini, lanjutnya, BPK tidak tidak akan terpengaruh oleh muatan politik yang kini sedang deras menghantam masalah pengadaan MA-60 tersebut. 'Seperti kata Presiden [Susilo Bambang Yudhoyono] jangan bergeser ke ranah politik. Biarlah profesionalisme lebih dulu menilai. Akuntan dulu yang melakukan penilaian terhadap kontrak pembelian tersebut," tuturnya.

Terkait dengan jadwal proses audit, mantan pimpinan KPK itu mengatakan belum ditetapkan. Sebelumnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempersilahkan BPK melakukan audit kontrak pembelian pesawat MA-60 asal China supaya tidak terus menjadi gunjingan atas dasar rasa curiga dalam proses pembeliannya. Hasil pemeriksaan oleh BPK sebagai lembaga yang berwenang diharapkannya bisa menjernihkan pembelian Ma-60 pada fakta yang sebenarnya, terlepas apapun hasilnya. Pernyataan itu disampaikannya dalam acara penyampaian laporan hasil pemeriksaan BKP atas laporan keuangan pemerintah pusat (LKPP) 2010 di Istana Negara, pekan lalu.

"Jangan biarkan kecurigaan demi kecurigaan terus berlangsung di negara ini ditambah statemen-statemen pihak tertentu yang membikin tidak jelas. Saya ingin jelas. Silakan dicek apakah ada penyimpangan, korupsi," katanya pada kesempatan tersebut.

Dalam hal ini, lanjutnya, kalau ada penyimpangan dan korupsi silahkan disampaikan dan begitu juga sebaliknya. Banyak kalangan mendesak dilakukannya pengusutan pembelian pesawat MA-60 oleh Merpati karena ditenggarai bermuatan kolusi dan suap dalam proses kontrak pembeliannya.

(Bisnis.com)

Barang Bawaan Julia Perez Disita Petugas Bandara

|0 komentar


Keberangkatan Julia Perez ke Manado untuk meninjau sasana tinju Richard Engkeng Boxing Camp sempat mengalami masalah. Ketika ingin boarding pass di Bandara Sukarno Hatta, dia dihentikan oleh petugas keamanan bandara, karena di dalam tasnya terdapat barang yang dilarang dibawa ke dalam pesawat. Di dalam tas terdapat pisau lipat dan kaleng oksigen.

"Barang-barang seperti ini tidak boleh dibawa Mbak Jupe, ini termasuk senjata tajam, dan ini (kaleng oksigen) juga tidak boleh. Kalau mau dibawa lebih baik dimasukan ke dalam bagasi," ujar petugas bandara Sukarno Hatta, Jumat (03/06).

Oleh petugas bandara Jupe ditanyai alasan membawa barang-barang tersebut. Dengan santai Jupe menjawab setiap pertanyan-pertanyaan petugas.

"Kalau pisau lipat aku tidak sengaja terbawa pak, maaf ya pak. Tapi kalau oksigen aku sengaja bawa pak, memang nggak boleh juga pak?" tanya Jupe pada petugas.

"Kalau bisa bawa yang ukuran kecil saja, karena khawatir tekanan udaranya," jawab petugas.

Akhirnya dua barang tersebut harus ditahan, tidak diizinkan oleh petugas untuk dibawa ke dalam pesawat. Bahkan petugas tuga menunjukkan beberapa contoh barang yang disita oleh pihak bandara seperti gunting, pisau cuttet, dan lain-lain.

 

(KapanLagi)

Bandara Tana Toraja Dapat Rp500 M

|0 komentar
Guna merampungkan revitalisasi Bandara Tana Toraja, Pemprov Sulsel mengusulkan anggaran Rp500 miliar yang merupakan dana sharing APBD dan APBN. Diharapkan tahun 2014 bandara yang akan dijadikan pintu masuk wisatawan itu bisa rampung.

Kepala Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informasi Sulsel, Andi Masykur Sultan, kepada FAJAR yang menyertai kunjungan kerja ke Singapura-Malaysia, Jumat, 3 Juni, mengatakan, saat ini proses tender telah berjalan dan segera melajutkan proyek pengerjaan pengembangan kawasan.

Luas lahan Bandara Tana Toraja yang merupakan pindahan dari Bandara Pongtiku mencapai 225 hektare dengan panjang runway 1.900 meter. Ini merupakan lahan baru karena Bandara Pongtiku  dianggap sudah  tak layak karena tak bisa dikembangkan dengan terbatasnya lahan. Lokasi baru akan pindah ke Bonto Kunek, Kecamatan Makengdek Tana Toraja.

"Seluruh studi ditanggung Pemprov Sulsel, sedangkan lahan oleh Pemerintah Kabupaten Tana Toraja. Tahun ini mulai berjalan yakni tahap pematangan lahan," jelas Masykur.

Penganggaran untuk pembangunan Bandara Tana Toraja, lanjut mantan Sekretaris Kabupaten Luwu ini, dikucurkan bertahap untuk lima tahun ke depan. Bandar udara ini menjadi bandara kedua terbesar di Sulsel karena diperuntukkan bisa melayani pesawat berbadan lebar untuk penerbangan regional.

"Kalau melihat panjang runway, maka bandara ini bisa melayni pesawat jenis Boing 737-100 seater. Bandara ini nanti juga memiliki dua runway sehingga berbeda dengan bandara perintis yang ada di Sulsel yang hanya memiliki satu runway dan panjangnya antara 900-1.200 meter," kata Masykur.

Hadirnya Bandara Tana Toraja yang belum diberi nama tersebut akan empat bandara perintis lain yang sudah ada yakni, Bandara Bone, Bandar Sekorampi Luwu, Bandara Masamba Lutra, Bandara Selayar, dan bandara swasta milik PT Inco di Sorowako Luwu Timur.

Sementara itu, Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo menuturkan Bandara Tana Toraja salah satu prioritas Pemprov Sulsel untuk tiga tahun ke depan. Bandara tersebut akan dijakan destinasi tujuan wisata.

"Untuk mencapai Tana Toraja dibutuhkan waktu sembilan jam. Makanya dengan kehadiran bandara tersebut diharapkan bisa connecting flay bandara nasional lain sehingga mempermudah  kunjungan wisata. Perjalanan kami ke Singapura-Malaysia untuk mempromosikan itu. Destinasi kunjungan wisata ke Sulsel terbesar berasal dari kedua negara ini," kata Syahrul.

Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar yang baru saja connect dengan Singapura, lanjut Syahrul, akan memudahkan warga Singapura atau Malaysia masuk ke Sulsel. "Kami mendengar keluhan dari para biro perjalan wisata, bahwa memang Tana Toraja kalau bangkit, ya harus dipermudah orang masuk di sana. Tana Toraja sangat susah diraih dengan perjalanan darat," ungkap Syahrul.

(Fajar Online)

Pesawat Terbang dari Limbah Karya Siswa

|0 komentar


SMA Angkasa Husein Sastranegara Bandung, Jawa Barat, menggelar lomba rancang pesawat terbang. Uniknya, pesawat dibuat dari barang bekas alias limbah.

Namun, tentu saja pesawat yang dibuat bukan pesawat sungguhan, bentuknya juga hanya miniatur tanpa mesin. Pesertanya adalah 54 anak SMP dari 15 SMP se-Bandung dan Cimahi. Tetapi yang patut diacungi jempol adalah kreativitas para peserta lomba yang berusaha menciptakan miniatur pesawat semirip mungkin dengan pesawat asli.

Misalnya miniatur pesawat yang dibuat  Chumedi Ismail (16) kelas 7 SMP YWKA Elang, Bandung. Dia merancang pesawat tempur F 18 Hornet.  "Strukturnya unik, bagus," kata Chumedi, kepada okezone saat ditanya kenapa membuat pesawat Hornet, Kamis (2/6/2011).

Miniatur made in Chumedi itu memiliki panjang sekira 20x10 cm. bahan yang digunakan meliputi kardus bekas, dua botol mineral ukuran 600 ml, kertas koran, dan lem sebagai perekat komponen, serta cat semprot.

Chumedi mengikuti lomba sejak pukul 09.00 WIB. "Kurang dari dua jam ini akan selesai," terangnya. "Ya mudah-mudahan juara, Amin," tambahnya.

Kepala Sekolah SMA Angkasa Mimim Haryati menyebutkan, lomba bertujuan untuk merangsang kreativitas merancang miniatur pesawat terbang dan helikopter dengan barang bekas.

Juara pertama lomba akan mendapat piala dari Danlanud Husein Sastranegara Kolonel Penerbang Asep Adang dan uang Rp3 juta.

"Peserta lomba cukup antusias. Ini merupakan lomba pertama yang kita gelar, sambil mengenalkan pelajaran muatan lokal yang ada di SMA ini," jelas Mimim, di sela lomba.

Pengetahuan tentang kedirgantaraan, lanjutnya, menjadi muatan lokal (mulok) andalan di SMA Angkasa. Mulok ini akan diterapkan pada tahun ajaran 2011-2012 untuk siswa kelas 10.

"Siswa bukan dididik menjadi ABRI, tapi kita kenalkan ilmu pengetahuannya seperti tentang TNI AU, nama-nama dan jenis pesawat, lapangan terbang, angin, cuaca, dan teknologi kedirgantaraan," paparnya.

Mengenai pengajar mulok, akan dilakukan guru fisika karena kedirgantaraan terkait erat dengan mata pelajaran fisika.

 

(Okezone.com)

Ditandai Penerbangan Bandung-Malaysia, Air Asia Mulai Tinggal Landas

|0 komentar

Maskapai penerbangan Air Asia Indonesia mulai mengoperasikan pesawat jenis Airbus A320 untuk penerbangan dari Bandung menuju destinasi internasional. Hal itu ditandai dengan penerbangan perdana pesawat berbadan besar ini dari Bandara Husein Sastranegara menuju Kuala Lumpur Malaysia, Kamis (2/6) pukul 06.00 WIB.

Presiden Direktur PT Indonesia Air Asia, Dharmadi mengatakan, sebelumnya penerbangan nonkomersial pesawat Airbus A320 menuju Bandara Husein Sastranegara, Bandung, telah dilaksanakan pada tanggal 5 April lalu. Pendaratan perdana A320 di Kota Kembang tersebut khusus menandai kesiapan Air Asia Indonesia dalam melayani warga Bandung dengan armada yang lebih besar, lebih nyaman, dan lebih canggih.

"Kami sangat senang Air Asia dapat melayani warga Kota Bandung dengan menggunakan Airbus A320 terbaru. Selain dapat mengangkut penumpang lebih banyak, pesawat Airbus kami didesain dengan tingkat kenyamanan yang lebih baik. Kini, kenyamanan menjelajahi jaringan rute Air Asia yang luas mulai dari Asia Tenggara, hingga ke Cina, India, Australia maupun Eropa akan langsung dirasakan sejak tinggal landas dari Bandung," katanya.

Selama ini, lanjut Dharmadi, Air Asia menunggu proses penebalan atau overlay landasan Bandara Husein Sastranegara selesai dikerjakan, sebelum mulai mengoperasikan pesawat Airbus A320. Kini, pengerjaan overlay tahap I sudah selesai dengan tebal landasan 7,5 cm sepanjang 2.220 m serta lebar 25 m, sehingga penerbangan pesawat Airbus pun bisa dilakukan.

"Antusiasme warga Bandung terhadap Air Asia sangat tinggi. Dengan terbang menggunakan Airbus A320, kini kami semakin optimistis bahwa antusiasme tersebut akan semakin meningkatkan jumlah penumpang Air Asia. Salah satu hal terpenting dari pemanfaatan pesawat Airbus A320 ini adalah bisa membawa terbang penumpang lebih banyak 22% dengan tingkat efisiensi bahan bakar yang lebih baik. Dengan demikian, peningkatan jumlah penumpang tetap sejalan dengan grafik efisiensi operasional," katanya.

Sesuai rencana, lanjut Dharmadi, Airbus A320 ini akan melayani warga Bandung untuk penerbangan rute-rute internasional. Dalam hal ini rute Bandung - Kuala Lumpur akan dilayani sebanyak 2 kali penerbangan setiap harinya dan rute Bandung - Singapura akan dilayani sebanyak 1 kali penerbangan setiap hari. Sementara jadwal penerbangan lainnya masih dilayani dengan menggunakan pesawat Boeing 737-300 yang secara bertahap akan digantikan dengan Airbus A320.

Hal senada diungkapkan Audrey Progastama, Corporate Communication Manager PT Indonesia Air Asia. Dikatakannya, minat masyarakat Kota Bandung terhadap penerbangan Air Asia cukup baik, hal tersebut terlihat dari penerbangan perdana dengan jumlah penumpang mencapai 90%. "Pada tahap awal ini, seiring penyelesaian overlay tahap II jumlah penumpang pesawat Airbus tidak kita maksimalkan dan pada penerbangan ini pun jumlah penumpang hanya mencapai 90% dari kapasitas total. Kapasitas penumpang untuk pesawat Airbus ini mencapai 180 orang," katanya.

(galamedia)

AIR ASIA

|0 komentar

AirAsia

Maskapai penerbangan yang terdepan di Asia ini didirikan dengan impian untuk membuat semua orang dapat terbang dengan pesawat. Sejak 2001, AirAsia telah dengan mulus mendobrak norma bepergian keliling dunia dan telah meningkatkan posisinya menjadi yang terbaik di dunia. Dengan jaringan rute yang membentang di lebih dari 20 negara, AirAsia terus membangun jalur menuju penerbangan berbiaya hemat dengan solusi inovatif kami, proses yang efisien dan pendekatan kami terhadap dunia bisnis yang penuh dengan semangat. Bersama dengan perusahaan rekanan kami AirAsia X, Thai AirAsia dan Indonesia AirAsia, AirAsia siap membawa konsep terbang dengan biaya hemat ke level yang baru dengan slogan kami: "Sekarang Siapapun Bisa Terbang (Now Everyone Can Fly"
 

AirAsia X

Memfokuskan diri untuk penerbangan berbiaya hemat, untuk penerbangan jarak jauh– AirAsia X didirikan pada 2007 untuk menyediakan jaringan titik ke titik dan berfrekuensi tinggi untuk bisnis layanan jarak jauh. Efisiensi biaya AirAsia X bersumber dari langkah mempertahankan armada penerbangan yang sederhana dan jaringan rute yang didasarkan pada bandara berbudget hemat, tanpa pembagian kode yang rumit dan kebiasaan-kebiasaan pembiayaan lainnya, yang memberatkan penerbangan konvensional tanpa mengurangi komitmen kami dalam hal keamanan penerbangan. Para penumpang dapat terus menikmati penerbangan dengan biaya hemat, melalui penghematan biaya yang kami lakukan.

Efisiensi dan pengoperasian yang dapat diandalkan dari AirAsia X, sepenuhnya dilisensi dan dimonitor dan oleh regulator Malaysia dan Internasional dan sepenuhnya harus memenuhi standar internasional.AirAsia X berkomitmen untuk menawarkan tarif hemat yang menarik, sistem keamanan yang dapat diteladani dan layanan dalam pesawat yang luar biasa, serta pengalaman layanan yang istimewa kepada seluruh penumpang kami - dengan tujuan menyebarluaskan pengalaman AirAsia yang luar biasa ke berbagai destinasi seru seperti Australia, China, India, Timur Tengah dan Eropa.

Our Vision

Menjadi maskapai penerbangan berbiaya hemat di Asia dan melayani 3 juta orang yang sekarang dilayani dengan konektivitas yang kurang baik dan tarif yang mahal.

Our Mission

  • Menjadi perusahaan terbaik untuk bekerja, di mana para karyawan dianggap sebagai anggota keluarga besar
  • Menciptakan brand ASEAN yang diakui secara global
  • Mencapai tarif terhemat sehingga semua orang bisa terbang dengan AirAsia
  • Mempertahankan produk berkualitas tinggi, menggunakan teknologi untuk mengurangi pembiayaan dan meningkatkan kualitas layanan

Our Values

Kami dapat membuat model biaya hemat kami melalui implementasi dari berbagai strategi kunci sebagai berikut:
  • Utamakan Keselamatan:
    Bekerja sama dengan penyedia perawatan paling terkenal di dunia dan mematuhi standar operasi penerbangan dunia.
  • Pemanfaatan Aircraft:
    Waktu perputaran (turn around time) tercepat di region dengan hanya 25 menit, memastikan tarif terhemat dan produktivitas yang tinggi.
  • Tarif Hemat, Tanpa Embel-embel:
    Menyediakan pilihan layanan yang sesuai dengan kebutuhan bagi para penumpang tanpa menurunkan kualitas dan layanan.
  • Pengoperasian Sederhana:
    Memastikan bahwa setiap proses dilakukan secara sesederhana dan efisien.
  • Sistem Distribusi yang Ringkas:
    Menawarkan kanal distribusi yang luas dan inovatif untuk memudahkan proses pembelian dan perjalanan.
  • Jaringan Point to Point:
    Menerapkan jaringan point to point agar pengoperasian menjadi sederhana dengan berbiaya yang rendah.

Pejabat vs Pilot Pesawat

|0 komentar
Tiap kali naik pesawat terbang saya selalu kagum melihat manajemennya. Dan suka membandingkan bagaimana sebuah penerbangan diurus oleh orang profesional, dengan bagaimana sebuah negara (baca : Indonesia) diurus oleh pemerintahan yang tidak becus. Dan keduanya memang jelas jauh berbeda.

Sebagai penumpang kita tidak pernah melakukan pilkada atau pemilu untuk menetapkan siapa yang jadi pilot kita, bahkan lihat wajahnya pun belum pernah. Tetapi sudah bisa dipastikan, pilot itu adalah orang yang ahli mengerjakan tugasnya, mengantarkan para penumpang dengan selamat tiba di tujuan.

Kita juga tidak pernah melihat segerombolan pilot melakukan kampanye sambil menggelar dangdut di lapangan terbang, dengan niat agar para penumpang memilih diri mereka, dengan alasan biar demokratis.

Kita juga tidak pernah menyaksikan bandara dipenuhi spanduk dan poster bergambar wajah calon para pilot, seperti umumnya kalau kita mau menetapkan siapa yang jadi pejabat di negara ini.

Pernahkah Anda dapat pembagian kaos, mug, kalender, dan berbagai asesoris bergambar calon pilot pesawat yang mau anda tumpangi? Pasti belum pernah, kan? Ya, dan memang tidak akan pernah ada kejadian seperti itu.

Dan kita tidak pernah tahu ada acara debat para calon pilot yang isinya cuma saling menjatuhkan dan saling mencela antara satu calon pilot dengan pilot lainnya, tentang mau bagaimana penerbangan yang akan ditempuh.

Kenapa semua itu tidak ada?

Jawabnya karena seorang pilot yang handal memang tidak akan pernah lahir dari hasil pemilihan, baik pemilu atau pilkada. Pilot yang dibutuhkan dalam sebuah penerbangan hanya bisa didapat lewat pendidikan berkualitas dan tentunya amat berat dan waktunya lama. Hanya siswa yang dinyatakan lulus saja yang boleh akhirnya jadi pilot.

Herannya, kalau sekedar untuk membawa terbang 400-an penumpang saja dibutuhkan keahlian pilot sampai segitunya, kok untuk memimpin sebuah negara dengan penduduk 230 juta, tidak ada syarat pendidikan apa-apa? Segitu gampangkah mengatur negara sehingga siapa saja dianggap berhak mencalonkan diri, demi sepenggal kata : hak asasi?

Dan konyolnya, kok bisa sampai ada keyakinan bahwa seorang pemimpin akan didapat lewat pemiliu atau pilkada? Saya teramat heran dan tidak habis pikir.

Tanpa pemilu atau pilkada (atau mungkin lebih enak kita sebut pilpilot kepanjangan dari pemilihan pilot), kita mendapatkan para pilot yang handal dan bekerja optimal. Mereka ahli di bidang nyopir pesawat, tanpa harus berkampanye serahkan pada ahlinya. (sory bang Foke). Dan ternyata mereka memang ahlinya dalam arti sesungguhnya.

Bahwa si pilot itu ahli nyopir pesawat, memang bukan sekedar janji kampanye, tetapi mereka sebelumnya wajib sekolah pilot, ikut berbagai macam ujian dan uji kelayakan. Kalau bisa lulus dari semua itu, barulah boleh jadi pilot. Itu pun harus punya SIM (surat izin menerbangkan pesawat?), dan kalau belum tentu tidak boleh terbang alias tidak boleh jadi pilot.

Coba bandingkan dengan pilot pemerintah baik pusat atau daerah. Dengan alasan demokrasi, `pilot` propinsi, kota madya atau kabupaten dan lainnya tidak diharuskan sekolah dulu. Dan memang tidak ada sekolahannya, setidaknya tidak disyaratkan untuk lulus dari sekolah tertentu untuk bisa nangkring di jabatan itu.

Yang penting, dia berhasil mendapatkan suara pemilih, bagaimana pun caranya, termasuk kasak kusuk busuk.

Jadi jelas banget perbedaan hasil kepemimpinan pilot dengan pejabat. Yang satu pakai sekolah dan ujian dulu, lama dan berat, sedangkan jadi pejabat mudah sekali, asalkan ada partai atau setidaknya `koneksi` dan `loby` yang mendukung, atau punya bargaining (posisi tawar) yang kuat, dan tentu saja harus ada uang buat belanja (bukan lagi beli) suara, jalannya bisa mulus untuk jadi pejabat.

Sebelum terbang, kita memang bisa dengar si pilot ngomong ; This is your capten bla bla bla, dan itu adalah informasi tentang siapa nama di pilot, lalu kita mau kemana, berapa lama penerbangan, transit dimana, terbang dengan ketinggian berapa, cuaca nanti seperti apa, perkiraan mendarat jam berapa, perbedaan waktu antara tempat tujuan dan tempat asal dsb dsb.

Nah kalau `pilot` pemerintahan, tidak pernah memberi informasi apa-apa, kecuali janji-janji doang. Nanti kita akan ini, akan itu, akan anu, sampai bosan mendengarnya. Dan semua rakyat tahu semua cuma janji surga, tak satu pun yang kesampaian.

Janji nanti kalau saya sudah jadi pejabat, kita akan habisi koruptor, eh ternyata malah dia yang jadi godfather koruptornya. Janji nanti kalau jadi pejabat, akan bebas banjir, eh justru semakin parah banjirnya.

Kayaknya kita tidak pernah dijanjikan ini dan itu oleh pilot pesawat kita. Belum pernah ada pilot bilang kepada penumpang : kita akan segera terbang tinggi ke langit keluar dari atmosfir dan insya Allah akan melewati bulan dan bintang! Belum pernah pilot bikin janji-janji macam itu.

Satu lagi yang menarik, saya belum pernah dengar ada pesawat kehilangan kabel, atau layar LCD, kursi atau perlengkapan lainnya, gara-gara ditilep oleh pilotnya. Saya juga belum pernah dengar pramugari tidak rata membagikan makanan, hanya gara-gara jatah makanan buat penumpang dilahap habis oleh kru pesawat.

Yang saya tahu, sebelum para pramugari pesawat makan, para penumpang dulu yang dilayani masalah makannya. Kita belum pernah dengar ada penumpang kelaparan gara-gara para pramugari makan duluan, kalau ada sisanya barulah dibagikan kepada penumpang yang masih saudara dengan para pramugari itu.

Saya juga belum pernah dengar ada lauk pauk dalam paket makanan buat penumpang yang ditilep oleh pramugari. Atau misalnya setelah makanan dibagikan, lalu kita disuruh menyerahkan salah satu makanan sebagai `upeti` atau uang pelicin buat para pramugasi. Asli belum pernah dengar.

Tapi kalau uang buat rakyat dimakan dan dibagi-bagi sesama pejabat dan PNS di suatu kementerian, rasanya sih sering dengar, terlalu sering bahkan. Lewat berbagai macam aksi tipu-tipu, seperti mark-up, uang dinas, uang perjalanan, bahkan gaji buat PNS yang sudah meninggal 10 tahun lalu masih saja bisa cair dan turun, entah bagaimana triknya, pokoknya duitnya cair. Bayangkan, para pejabat itu `menelan` apa saja yang bisa ditelan, sampai jatah makanan buat rakyat miskin pun disikatnya juga.

Dan sumbangan buat rakyat sudah biasa mengalami `sunatan masal`, dimana jatah dari atas dikucuri 10 juta, karena lewat berbagai jalur birokrasi, ternyata sampai tangan rakyat tinggal 10 ribu, itu berbulan-bulan tertahan. Tetapi kwitansinya tetap 10 juta. Dan sintingnya, penilepan seperti itu terjadi juga dalam kasus bantuan sosial buat korban bencana alam, baik di Aceh mau pun daerah bencana lain. Sungguh benar-benar bencana nasional.

Rakyat dan Penumpang Pesawat

Saya sering membandingkan kita sebagai bagian dari rakyat negeri ini, seharusnya diperlakukan sebanding dengan penumpang pesawat. Sebagai penumpang, kita beli tiket pakai uang kita. Dan imbalannya, selain diantarkan sampai ke tujuan dengan selamat, sepanjang perjalanan kita dilayani mulai dari urusan yang masuk ke perut sampai yang keluar dari perut.

Para awak pesawat akan melayani kita dengan senyum ramah, dan kita tinggal bilang, minta jus, teh, kopi, cola dan apa saja, mereka dengan senang hati memberikan. Kecuali kalau pesanannya rada nyentrik, seperti pesan gado-gado kacang mede plus es teler, kemungkinan besar nggak ada.

Tapi coba lihat gaya para pejabat itu, meski mereka kita bayar, boro-boro melayani kita dengan senyum, yang ada urusan surat-surat kita pun (masih saja) dipersulit. Padahal mereka itu kan pelayan rakyat, bukan raja yang minta dilayani. Pejabat-pejabat itu harusnya jadi seperti pramugari pesawat, kalau kita butuh bikin dan perpanjang KTP, bikin KK, perpanjang STNK, pajak dan sebagainya, seharusnya kita duduk manis di rumah sambil nonton TV, dan mereka yang mondar mandir ke rumah kita untuk melayani.

Bukan sebaliknya, kita yang disuruh bolak-balik keluar masuk kantor mereka, yang juga belum tentu ada di tempat, karena ada rapat atau malah lagi liburan ke luar negeri. Buat saya, mereka itu bukan pelayan rakyat, tetapi sebaliknya malah jadi raja yang minta dilayani oleh rakyat.

Apalagi kalau pejabat pusat mau kujungan ke daerah, wah ibarat mau menyambut raja. Semua persiapan mulai dari hotel, tiket, jalan-jalan, oleh-oleh dan sebagainya, harus disiapkan oleh para bawahannya.

Para pejabat itu hanya baru akan hormat kalau bertemu dengan rakyatnya yang kaya dan pengusaha, karena bisa dijadikan rekan atau pendukung saat kampanye atau pilkada. Kalau rakyat miskin yang kurang makan dan serba kekurangan, biasanya hanya dibutuhkan saat janji kampanye. Setelah menang dan naik tahta, semua sudah lewat begitu saja.

Bandingkan dengan para pramugari pesawat, mereka melayani para penumpang, tidak pernah pilih-pilih, apakah penumpangnya itu orang miskin atau orang kaya, bahkan meski pun penumpangnya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga (TKW), tetap saja dilayani dengan rata dan adil. Sebab buat pramugari, semua penumpang tanpa terkecuali, adalah raja yang harus dilayani.

Kalau perlu, pramugari yang cantik-cantik itu kita suruh manjat kursi angkat koper ke atas kepala. Memang sudah tugasnya, mereka malah senang bisa membantu para penumpang. Dan sebagai penumpang kita berhak mendapatkan pelayanan itu, karena kita kan sudah beli tiket.

Dalam bernegara, uang beli tiket pesawat kira-kira sama pajak yang kita bayarkan. Sengaja atau tidak sengaja, rakyat adalah pembayar pajak. Sebab waktu kita makan di restoran pasti kena pajak, waktu kita bayar listrik juga kena pajak, waktu kita nonton TV lagi-lagi kena pajak, bahkan sekedar punya tanah dan rumah yang 100% kita beli dengan uang kita sendiri pun, kita terkena pajak juga.

Wajar dong kalau kita berhak mendapatkan pelayanan dari para pejabat dan pegawai negeri, karena gaji mereka itu kan kita yang bayar. Harusnya lurah, camat, bupati, gubernur, menteri dan presiden itu kita suruh angkat koper, kalau haus kita suruh mereka tuang minuman buat kita, kalau kita lapar kita panggil dan kita suruh menyiapkan makanan. Itu tugas mereka dan untuk itulah mereka dibayar.

Bukannya malah jadi raja badut atau backing mafia, yang kerjanya memeras rakyat, menipu, menilep uang, mengkorup, menjarah kekayaan negeri. Pejabat model begini sebenarnya hanya pelanjut generasi dari kompeni Belanda yang memang penjajah. Kulitnya saja yang beda, tapi kelakuannya sama saja, bahkan penjajah yang masih bangsa sendiri itu kadang lebih kejam dan lebih zalim kepada rakyat.

Kadang saya bilang, sudah bagus ada anak yang bilang bahwa kalau dirinya sudah besar mau jadi pilot. Ya, silahkan jadi pilot, asalkan jangan jadi pejabat, kerjanya jadi penguasa makan uang rakyat. Kalau tidak haram setidaknya syubhat, bagaimana mau selamat di akhirat?

Oleh: Ahmad Sarwat, Lc

Sumber: Ustsarwat.Com
http://www.ustsarwat.com/web/berita-99-pejabat-vs-pilot-pesawat.html

Popular Posts